Masalah sampah
memang masalah klasik, bukan lagi masalah baru. Dari dulu sampai sekarang masih
ada dan belum sepenuhnya terselesaikan. Banyak hal yang telah dilakukan untuk
menanggulangi soal sampah, salah satunya mendaur ulang sampah menjadi
produk-produk kreatif hingga yang masih hangat dibicarakan oleh publik yaitu
diberlakukannya tas plastik berbayar. Jadi kalau kita belanja di supermarket
atau minimarket dan ingin menggunakan tas plastik sebagai wadah belanjaan kita
maka kita diwajibkan untuk membayar tas platik tersebut seharga Rp, 200. Mengapa
kebijakan tas plastik berbayar hanya membebani pengguna dengan nominal yang
begitu kecil. Parkir motor saja setidaknya kita bayar seribu rupiah, begitu
juga dengan buang air kecil. Namun, mengapa masalah plastik hanya dikenakan
biaya Rp.200? apakah angka Rp. 200,00 memberikan pengaruh bagi tiap orang yang
akan menggunakan plastik sehingga membuat mereka mengurungkan niat untuk
membeli tas plastik? Saya rasa tidak.
Masalah sampah
sebenarnya masalah kita bersama. Oleh karenanya diperlukan kesadaran dari tiap
individu untuk turut serta mengatasi persoalan sampah di negeri ini. Menurut
berita yang dilansir oleh https://m.tempo.co/read/news/2016/02/09/206743432/indonesia-produsen-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia, Indonesia merupakan Negara penghasil sampah
plastik di laut terbesar kedua di dunia setelah Cina. Sampah plastik yang
disumbang Indonesia sebanyak 187,2 juta ton. Miris mengetahui ini. Hal tersebut
menunjukkan masih rendahnya kepedulian kita terhadap persoalan sampah. Budaya
buang sampah ditempatnya sepertinya belum sepenuhnya menjadi milik masyarakat
kita. Tumpukan sampah di pinggir jalan atau di sungai menunjukkan bahwa kita
masih menganggap ringan untuk buang sampah sembarangan. Bahkan tak jarang orang
yang berada di dalam mobil juga membuang sampah, seperti sampah tisu, saat
mobilnya sedang melaju. Pola pikir yang masih menganggap sepele soal sampah
jika terus dibiarkan akan menjadi masalah yang tak berkesudahan.
Keluarga memiliki
peran penting dalam hal membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Keluarga
adalah sumber pendidikan pertama bagi anak yang dapat mempengaruhi sikap anak
di kemudian hari. Bayangkan jika seseorang yang terbiasa membuang sampah
sembarangan dan kebiasaannya masih terus terbawa hingga sudah berkeluarga. Hal
yang kemudian mungkin terjadi adalah tidak adanya ajaran dari orangtua pada
anak tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya sehingga anak juga
terbiasa membuang sampah sembarangan. Oleh karena itu, pola pikir yang masih
menganggap buang sampah sembarangan adalah hal yang ringan harus segera
dihilangkan agar tidak terus berlanjut pada generasi yang akan datang. Mari
berubah untuk Negeri yang lebih indah :).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar